Bulan Ramadhan sering dijuluki sebagai sayyidus syuhur (penghulu segala bulan). Keagungannya tidak hanya terletak pada ibadah puasa, tetapi juga pada sejarah besar yang menyertainya, yakni peristiwa Nuzulul Qur'an.

Di Indonesia, mayoritas umat Islam terbiasa memeringati malam Nuzulul Qur'an setiap tanggal 17 Ramadhan. Namun, di sisi lain, terdapat sejumlah literatur klasik—salah satunya Kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawiy—yang menyebutkan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan.

Lantas, manakah pendapat yang paling tepat? Mari kita urai perbedaan pendapat ini melalui kacamata sejarah dan kajian para ulama mufassir.

Makna Ramadhan dan Bulan Turunnya Kitab Suci
Sebelum membahas Nuzulul Qur'an, Syekh Utsman dalam Durratun Nashihin mengajak kita merenungi makna kata "Ramadhan" (رَمَضَانَ) itu sendiri. Berakar dari kata ar-ramadh, kata ini memiliki arti "panas yang menyengat". Dinamakan demikian karena pada bulan ini, dosa-dosa hamba yang berpuasa dengan ikhlas "dibakar" dan dilebur habis oleh rahmat Allah SWT.

Lebih dari sekadar bulan pengampunan, Ramadhan adalah bulan diturunkannya seluruh kitab suci samawi. Hal ini bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani dari Watsilah bin Al-Asqa’:

"Suhuf Ibrahim AS diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Kitab Taurat diturunkan pada malam keenam bulan Ramadhan. Kitab Injil diturunkan pada malam kesepuluh bulan Ramadhan. Kitab Zabur diturunkan pada malam kedelapan belas bulan Ramadhan, dan Alquran diturunkan pada malam kedua puluh empat bulan Ramadhan."

Berdasarkan hadits di atas, secara tersurat disebutkan bahwa Al-Qur'an turun pada tanggal 24 Ramadhan. Mengapa hal ini berbeda dengan tradisi 17 Ramadhan yang masyhur di tanah air?

Dua Pandangan Kuat Nuzulul Qur'an
Perbedaan pendapat (ikhtilaf) mengenai kapan persisnya Al-Qur'an turun sejatinya tidak perlu dipertentangkan, melainkan dipahami konteksnya. Berikut adalah dua pijakan utama yang digunakan oleh para ulama:

1. Pendapat 17 Ramadhan (Awal Turunnya Wahyu di Bumi)
Pendapat yang dipegang erat oleh umat Islam di Indonesia ini merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama (Surah Al-'Alaq ayat 1-5) kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.

Dalil utamanya adalah firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 41:

"...jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan..."

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "hari bertemunya dua pasukan" adalah peristiwa Perang Badar. Sejarah mencatat secara mutlak bahwa Perang Badar terjadi pada hari Jumat, tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Ibnu Abbas dan para ulama mufassir lainnya menjadikan ayat ini sebagai rujukan bahwa Al-Qur'an (wahyu pertama) turun pada 17 Ramadhan.

2. Pendapat 24 Ramadhan (Bertepatan dengan Lailatul Qadar)
Pendapat ini bersandar pada hadits Watsilah bin Al-Asqa' yang dikutip dalam kitab Durratun Nashihin. Pandangan ini sangat kuat karena sejalan dengan firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)." (QS. Al-Qadr: 1)

Lailatul Qadar diketahui terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan (tanggal-tanggal ganjil/genap setelah malam ke-20). Oleh karena itu, tanggal 24 Ramadhan sangat masuk akal sebagai waktu turunnya Al-Qur'an versi Lailatul Qadar.

Titik Temu: Dua Fase Turunnya Al-Qur'an
Jika sekilas terlihat bertentangan, para ulama besar seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi memberikan penjelasan yang luar biasa untuk mengkompromikan kedua fakta ini. Mereka menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengalami dua fase penurunan (Nuzul):

Fase Pertama (Jumlatan Wahidah): Al-Qur'an diturunkan secara utuh sekaligus (30 juz) dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia). Peristiwa besar ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Inilah yang dimaksud oleh hadits tanggal 24 Ramadhan dan Surah Al-Qadr ayat 1.

Fase Kedua (Munajjaman): Dari Baitul Izzah di langit dunia, Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW di bumi melalui perantara Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Proses berangsur-angsur ini dimulai dari wahyu pertama di Gua Hira, yang jatuh tepat pada tanggal 17 Ramadhan.

Kesimpulan
Peringatan 17 Ramadhan di tanah air adalah peringatan turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah di muka bumi. Sementara itu, keterangan 24 Ramadhan (atau malam-malam Lailatul Qadar lainnya) adalah waktu turunnya Al-Qur'an secara utuh dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Keduanya adalah kebenaran sejarah yang saling melengkapi.

Memahami perbedaan ini hendaknya tidak membuat kita sibuk berdebat, melainkan semakin takjub akan kesucian Ramadhan. Al-Qur'an adalah hudan linnaas (petunjuk), bayyinaat (penjelas), dan furqan (pembeda). Mari manfaatkan sisa hari di bulan yang panas (ar-ramadh) ini untuk "membakar" dosa-dosa kita melalui tilawah, tahsin, dan tadabur ayat-ayat-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.